.jpg)
Nama : Mukhlis Anwar
Umur : 36
Alamat : Desa Panton Makmur, Kec. Kr. Sabee, Aceh Jaya
Meski sudah mendekati genap empat tahun pascamusibah, begitu banyak korban gempa dan Tsunami yang belum memperoleh haknya, terutama di bidang bantuan perumahan. Sebagaimana dilaporkan oleh Bapak Mukhlis Anwar, korban Tsunami dari desa Panton Makmur, yang sekarang bertugas di Dinas Perairan Kota Calang. Menindaklanjuti pengaduan yang disampaikan pada medio September lalu, tim Advokasi Palang Merah Irlandia berkesempatan melihat langsung situasi yang dikeluhkan klien di desa Panton Makmur pada 30 Oktober 2008. Klien mengatakan bahwa sampai saat ini sebanyak 38 KK di Panton Makmur belum mendapatkan rumah bantuan, termasuk geusyiknya. Desa Panton hanya berjarak beberapa ratus meter dari bibir laut, tergolong sangat parah diamuk Tsunami. Justru warga di sini terheran melihat bantuan rumah lebih dulu diprioritas di desa lain sekitarnya. Sesungguhnya di desa ini UNHCR telah membantu 138 unit rumah, kendati dengan design seadanya. Namun, faktanya, terdapat warga yang sama sekali belum memperoleh rumah bantuan. Memang beberapa waktu lalu BRR Aceh Jaya menawarkan bantuan rumah via kepala desa Panton, Bapak Ramli. Hasil kesepakatan, tawaran itu tidak diterima lantaran BRR cuma memperuntukan 5 unit rumah saja di desa tersebut sedangkan jumlah yang pantas dibantu berjumlah 38 KK. Menurut Bapak Ramli, bila ia menerima 5 unit rumah bantuan BRR dimaksud, maka jumlah itu mewakili bantuan secara keseluruhan pada warga Panton Makmur. Artinya, tidak akan ada lagi bantuan rumah kelak di desa tersebut, terutama dari BRR. Terang saja Pak Geusyik juga menghindari konflik sebab porsi 5 unit tidaklah seimbang dengan kapasitas 38 KK yang dibutuhkan. Berdasarkan kondisi riil inilah, Bapak Mukhlis Anwar dan Pak Geusyik meminta bantuan tim Advokasi Palang Merah Irlandia berupaya menerobos lembaga/NGO yang masih punya program di bidang perumahan—kecuali BRR, supaya membantu warga Tsunami di desa panton Makmur... Bersama kita bisa! Insya Allah, Pak!
Umur : 36
Alamat : Desa Panton Makmur, Kec. Kr. Sabee, Aceh Jaya
Meski sudah mendekati genap empat tahun pascamusibah, begitu banyak korban gempa dan Tsunami yang belum memperoleh haknya, terutama di bidang bantuan perumahan. Sebagaimana dilaporkan oleh Bapak Mukhlis Anwar, korban Tsunami dari desa Panton Makmur, yang sekarang bertugas di Dinas Perairan Kota Calang. Menindaklanjuti pengaduan yang disampaikan pada medio September lalu, tim Advokasi Palang Merah Irlandia berkesempatan melihat langsung situasi yang dikeluhkan klien di desa Panton Makmur pada 30 Oktober 2008. Klien mengatakan bahwa sampai saat ini sebanyak 38 KK di Panton Makmur belum mendapatkan rumah bantuan, termasuk geusyiknya. Desa Panton hanya berjarak beberapa ratus meter dari bibir laut, tergolong sangat parah diamuk Tsunami. Justru warga di sini terheran melihat bantuan rumah lebih dulu diprioritas di desa lain sekitarnya. Sesungguhnya di desa ini UNHCR telah membantu 138 unit rumah, kendati dengan design seadanya. Namun, faktanya, terdapat warga yang sama sekali belum memperoleh rumah bantuan. Memang beberapa waktu lalu BRR Aceh Jaya menawarkan bantuan rumah via kepala desa Panton, Bapak Ramli. Hasil kesepakatan, tawaran itu tidak diterima lantaran BRR cuma memperuntukan 5 unit rumah saja di desa tersebut sedangkan jumlah yang pantas dibantu berjumlah 38 KK. Menurut Bapak Ramli, bila ia menerima 5 unit rumah bantuan BRR dimaksud, maka jumlah itu mewakili bantuan secara keseluruhan pada warga Panton Makmur. Artinya, tidak akan ada lagi bantuan rumah kelak di desa tersebut, terutama dari BRR. Terang saja Pak Geusyik juga menghindari konflik sebab porsi 5 unit tidaklah seimbang dengan kapasitas 38 KK yang dibutuhkan. Berdasarkan kondisi riil inilah, Bapak Mukhlis Anwar dan Pak Geusyik meminta bantuan tim Advokasi Palang Merah Irlandia berupaya menerobos lembaga/NGO yang masih punya program di bidang perumahan—kecuali BRR, supaya membantu warga Tsunami di desa panton Makmur... Bersama kita bisa! Insya Allah, Pak!
by; Afrizal Umar
No comments:
Post a Comment