Sunday, November 9, 2008

Melanggar Peraturan, Canadian Red Cross Stop Rumah Bantuan


Nama : Astiar
Umur : 31
Alamat : Desa Lhok Kruet, Kec. Sampoiniet, Aceh Jaya

Pada penghujung bulan September 2008 tim Palang Merah Irlandia menerima pengaduan dari salah seorang korban Tsunami di desa Lhok Kruet, Kec. Sampoiniet, Aceh Jaya bernama Astiar. Ia mempertanyakan status rumah bantuan yang telah dibangun oleh Canadian Red Cross (CRC), tapi kemudian bantuan tersebut dibatalkan, meskipun pembangunan fisik rumah tersebut sudah rampung 40 persen. Akhir Oktober 2008 tim advokasi Palang Merah Irlandia berkesempatan berkunjung ke rumah klien, mengamati lebih dekat masalah yang ia hadapi. Klien menuturkan kronologis permasalannya: awalnya April 2007 adalah masa di mana klien mendaftarkan berkas kepada Komite Gampong untuk melengkapi syarat calon penerima rumah bantuan CRC. Satu bulan kemudian, Mei 2008, pembangunan rumah klien dikerjakan. Pembangunan rumah klien dihentikan pada penghujung tahun 2007. Data klien dianggap bermasalah sehingga pengerjaan rumah bantuan dihentikan. Pada 29 Mei 2008, CRC secara resmi mengeluarkan surat pencabutan status penerima bantuan CRC (Removal from CRC Beneficiary List). Termaktub di dalam surat itu bahwa klien memberikan informasi yang tidak benar pada saat pendaftaran. Disebutkan bahwa sampai dengan 1 Juni 2006 klien masih masuk KK ayahnya dan belum menikah. Peraturan CRC menetapkan bahwa bantuan rumah diberikan kepada korban Tsunami yang telah menikah sebelum 1 Juni 2006. Meresponi surat CRC, klien mengirim surat tanggapan, isinya menerangkan bahwa tidak benar pada tanggal di atas ia masih termasuk KK orangtuanya—sejak Juni 2005, nama Astiar sudah terdaftar sebagai KK baru di desa Lhok Kruet. Begitupun ia mengaku baru menikah setelah 1 Juni 2006, namun ia tidak mengetahui kalau tanggal tersebut menjadi acuan sebagai calon penerima bantuan CRC. Hingga kini rumah bantuan yang dibatalkan itu masih berdiri tegak di depan shelter yang ditempatinya bersama sang istri. Mereka berharap CRC dapat melanjutkan kembali pengerjaan rumah bantuannya. Nyaris pilu, akunya, mengingat beberapa nama penerima rumah bantuan yang kasusnya serupa di desanya justru dapat menikmati bantuan CRC.

by; Afrizal Umar

No comments: