Nama : Ferry Sucandra
Umur : 31
Alamat : Desa Ujong Baroh, Kec. Johan pahlawan, Aceh Barat
Tim advokasi Palang Merah Irlandia baru bisa menemui klien (Ferry Sucandra) di bulan terakhir 2008. Tertunda beberapa bulan sejak klien membuat pengaduan Agustus lalu. Bapak dua anak ini korban Tsunami di desa Suak Indrapuri sebelum sekarang menetap di Ujong Baroh bersama keluarga mertuanya. Di tempat pertama di mana ia terkena Tsunami, Ferry merupakan penyewa rumah. Mulanya bersama orangtuanya sejak 1983. Lantaran menikah pada Mei 2004, KK-nya dipisahkan dari KK lama. Hubungannya dengan BRR sudah dimulai usai awal musibah Tsunami. Ia menuruti semua ketentuan pemangku kebijakan—dalam hal ini BRR—sesuai peraturan. Datanya dinyatakan valid sebagai penerima manfaat bantuan BRR untuk katagori BSBT. Tanah yang diminta untuk relokasi juga sudah ia siapkan, meskipun tanah tersebut merupakan hibah dari keluarga mertuanya. Lama menunggu, sebab Ferry juga disibukkan dengan pekerjaan sosial, yang secara tidak langsung menisbikannya secara rutin berurusan dengan BRR. Manakala ruang untuk bertanya tersampaikan, jawaban dari BRR adalah menunggu dan sabar. Harapannya mungkin besar, tapi kini lebih besar karena tim advokasi Palang Merah Irlandia sudah mendampinginya. Setidaknya ia tidak sendiri, tidak lagi sepi. Jika pun harus menunggu dan sabar, barangkali agar lebih wise, dan pada gilirannya menjadi filosof.
Umur : 31
Alamat : Desa Ujong Baroh, Kec. Johan pahlawan, Aceh Barat
Tim advokasi Palang Merah Irlandia baru bisa menemui klien (Ferry Sucandra) di bulan terakhir 2008. Tertunda beberapa bulan sejak klien membuat pengaduan Agustus lalu. Bapak dua anak ini korban Tsunami di desa Suak Indrapuri sebelum sekarang menetap di Ujong Baroh bersama keluarga mertuanya. Di tempat pertama di mana ia terkena Tsunami, Ferry merupakan penyewa rumah. Mulanya bersama orangtuanya sejak 1983. Lantaran menikah pada Mei 2004, KK-nya dipisahkan dari KK lama. Hubungannya dengan BRR sudah dimulai usai awal musibah Tsunami. Ia menuruti semua ketentuan pemangku kebijakan—dalam hal ini BRR—sesuai peraturan. Datanya dinyatakan valid sebagai penerima manfaat bantuan BRR untuk katagori BSBT. Tanah yang diminta untuk relokasi juga sudah ia siapkan, meskipun tanah tersebut merupakan hibah dari keluarga mertuanya. Lama menunggu, sebab Ferry juga disibukkan dengan pekerjaan sosial, yang secara tidak langsung menisbikannya secara rutin berurusan dengan BRR. Manakala ruang untuk bertanya tersampaikan, jawaban dari BRR adalah menunggu dan sabar. Harapannya mungkin besar, tapi kini lebih besar karena tim advokasi Palang Merah Irlandia sudah mendampinginya. Setidaknya ia tidak sendiri, tidak lagi sepi. Jika pun harus menunggu dan sabar, barangkali agar lebih wise, dan pada gilirannya menjadi filosof.
.jpg)


The another meeting we attended to resolve watsan issue was discussed with WATSAN American Red Cross team, we met with Ms. Shinta M. Sianturi (WATSAN senior project engineer) firstly we introduced our program to them and then we asked where their WATSAN project in Aceh and Nias, then we asked the possibility to refer some cases we handled to them, they said is ok so long as in American red cross working areas. And then MS Shinta gave us list areas AMREDCROSS working at the moment (Friday, April 25, 2008 – 11.00 AM).